Gaya belajar dan nilai akademis

Setiap orang pasti mempunyai cara belajar yang berbeda-beda yang menurut mereka itu efektif, tapi bagi sebagian yang lain atau orang lain mungkin gaya itu tidak sesuai.  Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi cerita tentang keseharian siswa dalam belajar, baik itu di sekolah maupun di rumah.  Suatu saat saya menanyakan kepada salah seorang siswa, apakah setiap malam melakukan tugas rutinnya sebagai pelajar (belajar) atau tidak.  Dan agak mencengangkan juga karena jumlah yang tidak belajar lebih banyak dari pada yang belajar.  Yang belajar pun tidak sepenuhnya belajar, tetapi dibarengi dengan kegiatan lain seperti nonton ataupun mendengarkan musik.

Ada siswa yang terbiasa belajar dalam keadaan tenang artinya butuh keheningan pada saat belajar.  itu berarti siswa tersebut mungkin harus belajar di tengah malam atau menjelang subuh.  Ada siswa yang terbiasa mendengarkan musik sambil belajar.  Ada juga siswa yang belajar sambil menonton TV.  sementara yang lain ada perlu teman untuk belajar, karena perlu berdiskusi atau ada teman untuk diajak bertukar pikiran.  Banyak hal memang gaya belajar yang bisa diterapkan.  akan tetapi sebagai seorang siswa harus selektif, karena gaya belajar siswa yang satu dengan yang lain pasti akan berbeda.  ada siswa yang terlihat santai pada saat guru menyampaikan materi tetapi mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh guru.  ada juga siswa yang terlihat serius tapi tidak mengerti apa-apa, hanya sekedar menjadi pendengar yang baik.  ada juga siswa yang memang tidak betah berada di ruang kelas, ada saja alasan untuk keluar.

Dalam belajar waktu bukan merupakan ukuran yang tepat.  tidak menjadai jaminan bahwa belajar dalam wakti berjam-jam akan membuat seseorang akan mengerti apa yang dipelajari.  tetapi ada juga yang hanya sebentar tetapi memahami apa yang dipelajari.  Satu hal penting adalah pada saat belajar fokuskan pikiran pada yang dipelajari, bukan pada yang lain apalagi sampai berimajinasi tidak jelas.

Oleh karena itu, tidak semua metode belajar tepat untuk semua orang, tergantung pada bagaimana siswa mengapalikasikan.  untuk menilai apakah gaya belajar kalian sudah tepat atau belum, korelasikan dengan nilai yang diperoleh.  Jika tidak ada korelasi positif berarti kalian harus merubah cara belajar belajar, tidak terpaku pada gaya belajar yang sudah jelas tidak memberikan kontirbusi terhadap nilai yang telah kalian dapatkan.

Model-model Pembelajaran

Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.

 

Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, saya sepenuhnya yakin dan percaya bahwa kreativitas para guru sangat tinggi.  Bagi rekan-rekan yang memerlukan model pembelajaran berikut ini, silahkan download dan silahkan kembangkan dan sesuaikan dengan kondisi siswa kita.

Model-model pembelajaran

Buku sekolah elektronik

Program yang sangat baik dari pemerintah dengan adanya buku sekolah elektronik.  Saya berpikir, mungkin ini imbal yang diberikan oleh pemerintah sehubungan dengan melambungnya harga bbm yang diikuti dengan meningkatnya harga buku yang pernah disampaikan oleh beberapa penerbit.  Walaupun masih terbatas buku-buku yang bisa di baca ato download, paling tidak ini sudah sedikit membantu.  Berikut ini contoh tampilan buku yang siap didownload dan alamat websitenya.

buku sekolah elektronik

Pemantapan KTSP & Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Berbasis TIK

Alhamdulillah kata yang pantas diucapkan karena kegiatan pelatihan Pemantapan KTSP & Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Berbasis TIK (27 – 28 Juni 2008) bisa terlaksana dan berjalan dengan lancar sesuai harapan. Walaupun pelatihan kali ini terbagi atas dua bagian, akan tetapi tetap merupakan satu rangkaian yang saling terkait. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Bapak Dr. Rahmat, M.Pd. Pembina SMA Kosgoro & Pengawas Kota Bogor sekaligus sebagai konsultan di Direktorat Pembinaan SMA. Materi juga disampaikan oleh Ibu Dra. Riana Yani, Pengawas Kota Bogor yaitu Teknik Penyusunan RPP. Selain menyampaikan materi, peserta juga dibimbing langsung bagaimana membuat RPP yang disesuaikan dengan visi dan misi sekolah. Tujuan kegiatan pemantapan KTSP adalah setiap guru diharapkan mampu merancang dan membuat RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampuh. Sehingga setelah pelatihan, para guru sudah mempunyai RPP khususnya kelas 12. Selain RPP kelas 12, revisi juga dilakukan terhadap RPP kelas 10 dan 11 yang masih terkesan adopsi dari sekolah lain. Selain pengawas, sepuluh orang guru SMA Kosgoro yang telah mengikuti Bintek KTSP selama 4 hari (26 – 29 Mei 2008) turut membantu rekan-rekan guru yang lain.
Setelah pelatihan KTSP, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan bahan ajar berbasis TIK yang dilaksanakan di Lab. Komputer SMA Kosgoro. Materi pelatihan bahan ajar adalah pembuatan bahan ajar menggunakan Microsoft Powerpoint dan Web Page Maker. Pelaksanakan kegiatan dibagi 2 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 23 orang guru. Hal ini dilakukan karena jumlah komputer yang terbatas (hanya 40 unit) dan memudahkan dalam penyampaian materi serta bimbingan langsung dari instruktur. Materi powerpoint disampaikan secara bergantian oleh Bapak Dedi Suryadi & Didik Sulaksono yang menekankan langsung bagaimana membuat bahan ajar berbasis TIK. Kemampuan peserta yang bervariasi dalam mengoperasikan komputer cukup membuat kerepotan instruktur menyampaikan langkah-langkah pembuatan bahan ajar. Materi kedua dalam pelatihan pembuatan bahan ajar adalah Web Page Maker yang disampaikan oleh Bapak Herman Lasrin. Sama dengan kegiatan pertama dimana peserta juga dilatih bagaimana membuat bahan ajar tetapi berbasis web. Walaupun berbasis web peserta sangat antusias karena mungkin merupakan aplikasi baru bagi para guru dan proses pembuatannya pun sederhana.
Waktu kegiatan pelatihan yang terbatas membuat peserta agak kesulitan dalam mengaplikasikan apa yang sudah diperoleh walaupun peserta sudah dibekali dengan panduan dan software. Keinginan yang besar dari peserta untuk membuat bahan ajar berbasis web disikapi sekolah dengan memberikan waktu tambahan bagi para guru. Bagi yang masih ingin berlatih, diberikan kesempatan selama beberapa hari dan tetap dibimbing oleh instruktur. Selamat membuat bahan ajar bapak/ibu guru. Semoga keinginan untuk memberikan perubahan dalam menyampaikan materi di kelas bisa terealisasi dan tidak lagi terkungkung oleh paradigma lama dengan metode yang itu-itu saja. Sekali lagi selamat bekerja. Let’s be a professional teacher

10 saran untuk memperbaiki metode ceramah

Ceramah adalah sebuah metode belajar yang paling disukai, tetapi apakah ini memiliki tempat pada lingkungan belajar yang aktif? Ceramah yang terlalu sering tidak akan efektif. Karenanya bangunlah daya tarik terlebih dahulu, memaksimalkan pengertian dan ingatan, libatkan siswa selama ceramah, dan beri penguatan pada apa yang telah disajikan

Membangun minat

  1. kemukakan cerita atau visual yang menarik. Sajikan anekdot, cerita fiksi, kartun atau grafik yang dapat memenuhi perhatian peserta didik terhadap apa yang anda kerjakan
  2. buatlah kasus masalah, kemukakan suatu masalah di sekitar ceramah yang anda sampaikan
  3. tes pertanyaan, berilah peserta didik sebuah pertanyaan, untuk mencari tahu apakah mereka sebelumnya telah memiliki sedikit pengetahuan tentangnya sehingga mereka akan termotivasi untuk mendengarkan ceramah anda

Memaksimalkan pemahaman dan ingatan

  1. headlines, beri poin-poin utama pada kata-kata kunci yang berfungsi sebagai sub hiding verbal atau alat bantu ingatan
  2. contoh dan analogi, kemukakan ilustrasi kehidupan nyata mengenai gagasan dalam ceramah dan jika mungkin buatlah perbandingan antara materi anda dan pengetahuan dengan pengalaman yang telah peserta didik alami
  3. alat bantu visual, gunakan flip-chart, transparansi, handout singkat dan demonstrasi yang membantu siswa melihat dan mendengarkan apa yang anda katakan

Melibatkan peserta didik selama ceramah

  1. tantangan spot, hentikan ceramah secara periodik dan tantanglah peserta didik untuk memberi contoh dari konsep yang disajikan untuk menjawab pertanyaan kuis spot
  2. latihan-latihan yang memperjelas, seluruh penyajian, selingi aktifitas-aktifitas singkat yang memperjelas poin-poin yang anda buat

Memberi daya penguat ceramah

  1. Aplikasi masalah, ajukan masalah atau pertanyaan pada peserta didik untuk diselesaikan dengan didasarkan pada informasi yang diberikan waktu ceramah
  2. review / mengulas siswa, perintahkan siswa untuk saling mengulas ceramah satu dengan yang lainnya, atau berilah mereka tes ulasan dengan menskor sendiri

Anak yang cerdas dan anak yang lamban

Ciri anak yang cerdas
Ia mempunyai energi yang lebih besar, dorongan ingin tahunya lebih besar, sikap sosialnnya lebih baik, aktif, lebih mampu melakukan abstraksi, lebihcepat dan lebih jelas menghayati hubungan-hubungan. Bekerja atas dasar rencana dan inisiatif sendiri, suka menyelidiki sesuatu yang baru dan lebih luas, lebih mantap dengan tugas-tugas rutin yang sederhana, lebih cepat mempelajari proses-proses mekanis, tidak menyukai tugas-tugas yang belum dimengerti, tidak suka menggunakan cara hafalan dengan ingatan, percaya pada kemampuan diri sendiri, malas mempelajari hal-hal yang tidak menarik minatnya. Selain itu, ia dapat menempatkan dan mengatur bahan-bahan, menemukan dan merumuskan hubungan-hubungan dan kesimpulan-kesimpulan, membaca bahan-bahan yang lebih sulit. Ia dapat membantu anak-anak yang lebih rendah daripadanya untuk menyelesaikan tugas-tugas rutin yang lebih mudah. Ia dapat diberi tugas yang luas dan masalah-masalah yang rumit. Anak ini dapat dilatih untuk mendiagnosis diri sendiri dan merencanakan perbaikan sendiri dengan bekerja.

Ciri anak yang lamban
Ia belajar dalam unit-unit yang lebih sempit, ia ingin kemajuannya sering diperiksa dan perlu banyak perbaikan, perbendaharaan katanya lebih terbatas, memerlukan banyak kata baru untuk memperjelas pengertian, sulit membuat kesimpulan-kesimpulan atau memahami pengertian-pengertian, kurang memiliki kemampuan kreatif dan abilitas merencanakan.
Ia lebih lambat menguasai keterampilan-keterampilan mekanis dan metodis, lebih mudah mengerjakan tugas-tugas rutin, tetapi sulit membaca dan melakukan abstraksi. Ia cepat mengambil keputusan, tetapi kurang kritis dan mudah puas dengan jawaban yang dangkal. Ia kurang senang dengan kemajuan orang lain. Anak-anak yang tidak punya pengalaman yang tidak menyenangkan pada waktu masuk sekolah, umumnya mudah marah, kurang percaya pada diri sendiri dan lebih berminat terhadap kehidupan di luar sekolah. Ia mudah terpengaruh oleh saran-saran orang lain. Kesulitannya dalam belajar bertumpuk-tumpuk. Ia mempunyai ruang minat yang sempit, cenderung kepada kegiatan-kegiatan yang bersifat kompensasi, waktu belajarnya lamban, kurang mampu melihat hasil-hasil akhir perbuatannya.

Belajar

Belajar pada hakekatnya adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada individu yang belajar. Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena usaha individu yang bersangkutan. Belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : bahan yang dipelajari, faktor instrumental, lingkungan dan kondisi individual si pelajar. Faktor-faktor tersebut diatur sedemikian rupa agar mempunyai pengaruh yang membantu tercapainya kompetensi secara optimal.

Proses belajar yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan senantiasa berlangsung dalam berbagai situasi dan kondisi. Percival dan Ellington menggambarkan model sistem pendidikan dalam proses belajar yang berbentuk kotak hitam. Masukan untuk sistem pendidikan atau sistem belajar terdiri dari orang, informasi dan sumber lainnya. Keluaran terdiri dari orang/siswa dengan penampilan yang lebih maju dari berbagai aspek, sedangkan diantara masukan dan keluaran terdapat “black box” yang berupa proses belajar atau pendidikan.

Pada dasarnya belajar merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Dengan belajar, maka pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, nilai, sikap, tingkah laku, dan semua perbuatan manusia terbentuk, disesuaikan dan dikembangkan. Dari berbagai pandangan para ahli yang mencoba memberikan defenisi belajar dapat diambil kesimpulan bahwa belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif permanen serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi fisik yang sifatnya sementara. Oleh karena itu, pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar, baik yang secara sengaja dirancang (by design) maupun yang tidak secara sengaja dirancang, namun dimanfaatkan (by utilization). Proses belajar tidak hanya terjadi karena adanya interaksi antara siswa dengan guru. Hasil belajar yang maksimal dapat diperoleh lewat interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar lainnya.

Perolehan belajar, disamping penguasaan materi pembelajaran itu sendiri, dapat juga berupa kemampuan lain. Dari pengalaman belajar yang dialami, seseorang dapat belajar bagaimana caranya belajar.
Aktivitas belajar sangat berkaitan dengan fungsi otak manusia. Sebagai organisme hidup, merupakan suatu organisasi biologik yang dalam ujud strukturalnya terjadi secara genetik. Menurut Vygotsky terdapat hubungan yang erat antara pengalaman sehari-hari dengan konsep keilmuan, tetapi ada perbedaan secara kualitatif antara berpikir kompleks dan berpikir konseptual. Berpikir kompleks didasarkan atas kategorisasi obyek berdasarkan suatu situasi, sedangkan berpikir konseptual berbasis pada pengertian yang lebih abstrak.